,.

Monday, October 22, 2012

Pertemuan Perdana Mata Kuliah Problem Solving

Pertemuan perdana mahasiswa program study Impome 2012 FKIP Unsri pada mata kuliah Problem Solving dengan pengampu Dr. Yusuf Hartono atau biasa dipanggil dengan Bapak Ucup, beliau menyampaikan beberapa hal pembuka terkait mata kuliah tersebut dengan pendekatan PMRI. Mulai dari penyampaian mengenai pembelajaran matematika pada umumnya saat ini di sekolah, tentang matematika dan materi problem solving yang akan diajarkan beliau kepada mahasiswa nantinya.
Di dalam pendidikan ada beberapa hal yang perlu dimodifikasi sehingga memberikan suatu hasil yang maksimal di dalam proses mengajar dan pembelajaran matematika. 
 

Di dunia saat ini, pengetahuan dibedakan menjadi dua hal yaitu Imu dan bukan Ilmu. Pada pertemuan tersebut, beliau menyampaikan bahwa matematika berada di bagian bukan ilmu. Matematika dikenal sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat abstrak dengan proses berpikir yang  dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran yang sebelumnya sudah diterima. Sehingga dengan proses seperti itu, dapat dirasakan bahwa keterkaitan antar konsep dalam matematika sangat kuat yang mana dimulai dari sebuah aksioma atau suatu kepercayaan yang mendasari dalam proses berpikir yang kemudian melahirkan beberapa kepercayaan-kepercayaan yang mendukung.
Menurut peta materi yang tersedia saat ini, materi pembelajaran matematika yang diberikan sering dipandang sebagai suatu mata pelajaran yang memiliki alur penyampaian materi yang bersifat hierarkis dimana untuk mencapai kompetensi materi yang baru, diperlukan kompetensi penguasaan materi sebelumnya terlebih dahulu. Sehingga alur tersebut memberi kesan bahwa pembelajaran matematika umumnya berlangsung dari hal yang sederhana menuju hal-hal yang kompleksitasnya tinggi.
Sebagai contoh, dalam proses pembelajaran pada materi operasi hitung bilangan dengan indikator  operasi hitung campuran pada anak SD dari hal yang sederhana.
10000 – 2 x 1500 – 3  x 1000 = ……

Pada model contoh soal tersebut, banyak siswa yang bisa menyelesaikan pemecahan soal tersebut walau kadang tidak sedikit pula siswa yang masih belum bisa menyelesaikan soal tersebut. Suatu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana bila model contoh soal tersebut dikembangkan  kedalam suatu bentuk soal cerita yang tentunya dengan kompleksitas lebih tinggi?
Misalnya, Ani mempunyai uang Rp. 10.000, -. Dia ingin membeli buku dua buah seharga 1500/ buah dan tiga buah pensil dengan harga 1000/buah. Berapakah uang kembalian yang diperoleh Ani?

Soal cerita tersebut seringkali dihindari oleh siswa karena kemampuan siswa memecahkan masalah tersebut masih belum dimiliki. Siswa kesulitan dalam merubah soal cerita menjadi model matematika.

 
Hal ini lebih semakin menjadikan sulit dalam membelajarkan matematika kepada siswa ketika guru hanya mementingkan hasil perhitungan akhir tanpa mengedepankan proses berpikir siswa. Fakta di dalam proses pembelajaran bahwa banyak  guru yang lebih mementingkan menyelesaikan materi  yang ada dikurikulum daripada penguasaan materi oleh siswa. Sehingga dalam hal ini, seharus nya siswa perlu diberi kebebasan dalam berkreatifitas dan berfikir kritis. Padahal, pendidikan yang menekankan pada demokrasi, pentingnya kreatifitas yang bermanfaat, aktivitas yang bermakna, kebutuhan riil siswa, pengaplikasikaan nya  dalam kehdupan sehari-hari di daerah sehingga suasana proses belajar mengajar akan berlangsung  menyenangkan.
Demikianlah pengantar mata kuliah problem solving yang penulis tambah sedikit mengenai keterangan-keterangan di dalam pertemuan tersebut.

Related Post:

Widget by [ Iptek-4u ]

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Iptek-4u - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons